Langsung ke konten utama

Ketika Hati Berhenti di Masjid Sejuta Pemuda: Dari Drama Menuju Pasrah dan Syukur [Bagian 2 - Selesai]



Kamis - Ahad
Cerita pun berlanjut. Teteh bilang dia mau ke Sukabumi untuk lomba. Aku ikut berangkat Sabtunya, sambil menyelesaikan pekerjaanku agar nanti gak bawa laptop saat pergi. Tapi drama kembali muncul: rombongan teteh belum pesan penginapan! Ya ampun, ini benar-benar bikin jantung dag-dig-dug. Sebagai orang yang lumayan terencana walau kadang jedag-jedug, aku mulai cari penginapan affordable yang dekat dengan GOR Sukabumi, tempat lomba berlangsung.

Susah banget! High season bikin harga penginapan naik gila-gilaan. Tapi alhamdulillah, dengan skill set ku wkwkw, aku berhasil nemuin tempat yang pas di kantong dan dekat lokasi. Semua beres, aku bisa tenang… sampai setelah check-out dan sudah berada di GOR, ada pesan masuk ke WhatsApp-ku! Ternyata ada masalah sama sprei hotel gara-gara minyak kayu putih. Aduh, aku capekkkk banget waktu itu. Harusnya aku bisa support teteh sampai dia tampil, tapi moodku udah jelek banget. Akhirnya aku mutusin langsung pergi ke masjid yang udah lama aku pengen kunjungi, buat sedikit ngobatin hati walau tetep kesel wkwkwk.

Titik balik
Jarak dari GOR ke masjid cuma 2-3 km. Awalnya aku mau jalan kaki aja, wong di Jakarta biasa jalan 10 km lebih juga gak masalah. Tapi akhirnya aku putusin naik GoJek aja. Aku agak takjub sih, Sukabumi ini ternyata di luar dugaanku, dan ongkos GoJek cuma 7 ribu doang! Murah banget, kan?

Pas sampai masjid, aku langsung terpana. Tempatnya cakep banget, ada cafenya juga, view-nya juara. Aku udah sering liat kontennya, tapi pas lihat langsung beda banget. Masjidnya rame dan makmur, suasananya adem.

Aku pesan kopi, terus si teteh bilang kopinya gratis, cuma boleh bayar doa atau infaq aja. Aku sampai pengen nangis saking takjub. Kopinya enak huhu, tempatnya estetik, cakep parah, dan semuanya gretonggg.


Makan siang yang menghangatkan hati
Setelah Dzuhur, suasana mulai sepi. Tiba-tiba para pengurus masjid ngajak aku makan siang bareng. Aku sempat diem dulu 15 menit, untuk menenangkan otak. Setelah itu aku turun dan ikut makan bareng mereka.

Sampai di area makan, aku bener-bener takjub, makanannya enak banget… gaissss! Ada ayam, nasi, sayur, dan minuman, semuanya gratis. Aku gak pernah merasakan perasaan makan enak di masjid dan gratis lagi. Ini tuh perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan aktivitasku di masjid biasanya gak pernah begini perasaannya.. ada rasa bener-bener Masya Allah Tabarakallah gitu.



Penutup dan HIKMAH (hikmahnya harus gede)

Aku sadar, kepindahan dari Jakarta ke Surabaya ini bawa banyak kisah dan perjuangan yang ngajarin aku sabar, ikhlas, dan pasrah. Tapi bukan cuma sekadar kata-kata itu aja, tentu aku harus yakin semuanya bagian dari rencana Allah.

Ada beberapa uang yang aku anggap “hilang” selama perjalanan kemarin, tapi aku coba lihat dari sisi positif, mungkin itu memang bukan rejekiku dan bisa jadi jadi rejeki orang lain. Aku yakin Allah sudah siapkan rejeki yang lebih banyak buatku nanti. Aku harusnya sadar, mungkin aku harus mulai lebih hati-hati dan jalani hidup yang lebih hemat beberapa bulan ke depan, frugal living kah?? hahaha!

Pada akhirnya aku merasa, perjalanan ini sudah cukup. Aku sudah sering berkelana cukup jauh, buang waktu banyak walau keliatan produktif, dan sekarang saatnya berhenti sejenak, menyimpan semua hikmah dan belajar dari semua pengalaman ini.



Komentar

Popular Posts

Mengenal Ukuran Majalah, Brosur, Undangan, dan Media Cetak

Mengenal Ukuran Majalah, Brosur, Undangan, dan Media Cetak Banyak orang suka baca dan simpan buku, brosur, majalah, atau koran, tapi sering lupa soal ukuran kertas yang benar. Padahal, ukuran yang pas itu penting banget biar hasil cetak nggak berantakan dan biaya nggak membengkak. Di sekolah, kampus, atau instansi yang mau bikin brosur, majalah, atau katalog, sering nggak tahu ukuran kertas standar yang harus dipakai. Makanya, penting banget tahu jenis kertas dan ukuran yang biasa dipakai buat media cetak seperti brosur, majalah, poster, undangan, dan lain-lain. Ini ukuran standar yang sering dipakai: Brosur: A4, F4, Letter, atau custom (disarankan pakai ukuran standar supaya nggak boros) Majalah: A4, Letter, B5, atau F4 Jurnal: B5, biasanya buat kampus Buletin: F4 atau A4 Undangan: Bebas, tapi biasanya sekitar 21,5 x 16,5 cm atau 16,5 x 16,5 cm Tabloid: 29 x 42 cm, jumlah halaman kelipatan 4 Koran: Sekitar 33,5 x 55 cm, kayak Kompas atau Jawa Pos Kop...

23 vs 32

10 tahun lalu terasa berat buatku, bahkan 10 tahun setelahnya juga masih terasa berat.. "Merayakan hari jadi diri sendiri dengan sendirian di usia 32th" Hari ini banget aku pergi ke Sate Kelopo favorit di sebelah gedung Intiland dan siapa tahu ibu sang penjual sepertinya agak hafal wajahku bertanya " kok dewean ?", dalam hatiku hmm sepertinya aku selalu sendirian bu :') tapi terima kasih bu sudah mengajak aku bicara di hari ultahku itu sangat berarti. So, aku sangat bersyukur dengan usia yang begitu matang. Usia 23 tahun di 10 tahun lalu, diriku masih struggle dengan kehidupan, mulai mencari kerja, mencari jati diri, dapat kerja tapi gaji masih difokuskan ke rumah, gak fokus buat nikah karena kepikiran karena belum stabil semuanya, quarter life crisis walaupun sampai sekarang tapi, setidaknya aku bersyukur sudah melewati fase itu. Tapi itu 10 tahun lalu. Sekarang? jadi dewasa itu penuh dengan pertimbangan, udah 10 tahun bekerja tapi nggak naik-naik jabatan ehhh...

Tips Membuat Majalah, Koran, Brosur, dan Sejenisnya

Tips Membuat Majalah, Koran, Brosur, dan Sejenisnya Sebenarnya, bikin majalah, koran, brosur, atau leaflet itu punya beberapa aturan dasar yang sama dan tujuan format yang jelas. Dari pengalaman saya, banyak desainer pemula yang asal jadi aja tanpa ngerti aturan penting. Padahal, misalnya buat majalah, ada aturan khusus seperti jumlah halaman, ukuran font, pengaturan gambar, margin, dan lain-lain. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan: Jumlah halaman harus kelipatan 4 (misal: 12, 16, 20, 24, 28, dst). Ini supaya nggak ada halaman kosong yang mubazir. Ukuran font isi majalah: 9-10 pt, pakai font yang umum seperti Arial, Times New Roman, Georgia, Garamond, dll. Ukuran font judul: minimal 16 pt ke atas, bisa bervariasi sesuai desain. Jangan asal copy-paste gambar , tapi pakai fitur impor atau place di program desain seperti CorelDraw, Photoshop, Adobe InDesign, dll. Margin standar: minimal 1,5 cm untuk kiri, kanan, atas, dan bawah supaya tampilan lebih rapi d...